Setelah Bermasalah Dengan Korut, Sekarang Trump Kecam Iran Mengenai Kesepakatan Nuklir 2015

Setelah Bermasalah Dengan Korut, Sekarang Trump Kecam Iran Mengenai Kesepakatan Nuklir 2015

Kabarberitahariini.com, Tidak hanya disibukkan dengan kelakuan yang dibuat oleh Korea Utara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun terganggu dengan kelakukan dan sikap dari Iran.

Seperti yang telah diberitakan AFP, Kamis (11/8/2017), Trump melontarkan kecaman terhadap negara tersebut.

Dia mengatakan bahwa Iran tidak menjalankan kesepakatan nuklir yang sebelumnya telah disepakati di tahun 2015.

“Saya tidak berpikir Iran melakukan hal yang sesuai dengan kesepakatan itu,” ucap Trump. Trump mengungkapkan hal tersebut disela masa cuti sepanjang dua minggu, padang golf-nya di New Jersey.

“Iran tidak hidup di dalam semangat yang tertuang dalam kesepakatan itu,” tambah Trump lagi. Dalam kesepakatan yang dibuat pada tahun 2015, Iran telah setuju untuk mengurangi aktivitas nuklirnya dengan balasan pengurangan sanksi ekonomi.

Trump bahkan mengatakan, kesepakatan yang disepakati dengan Iran tersebut merupakan kesepakatan terburuk yang pernah ada. Dia juga mengungkapkan bahwa Iran terus mendukung terorisme di Timur Tengah.

Pada saat sebelumnya, pada tanggal 17 Juli lalu, Gedung Putih mengatakan bahwa Republik Islam Iran masih berpegang pada kesepakatan nuklir tersebut.

Dari sisi lain, Pemerintah Iran telah menegaskan bahwa penetapan sanksi baru yang ditandatangani oleh Trump, telah melanggat kesepakatan mengenai nuklir yang sudah ada.

Terhubung dengan perkembangan terakhir itu, Iran pun mengaku akan mengambil tindakan sebagai bentuk tanggapan atas sanksi tersebut.

“Kami percaya bahwa kesepakatan nuklir telah dilanggar dan kami akan bereaksi.”

Begitulah yang dikatakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam siaran televisi pemerintah pada awal bulan Agustus yang lalu.

Selain daripada itu, sanksi baru AS, yang juga mencakup Rusia dan juga Korea Utara, menargetkan program rudal iIran dan pelanggaran HAM. Hal tersebut tidak tercakup dalam kesepakatan niklir tahun 2015.

Sementara, sanksi baru AS, -yang juga mencakup Rusia dan Korea Utara, menargetkan program rudal Iran dan pelanggaran hak asasi manusia. Hal itu disebut tidak tercakup dalam kesepakatan nuklir tahun 2015.

Related posts