Penderita BPD Bisa Disebut Gila Karena Senang Untuk Menyakiti Diri Sendiri

Penderita BPD Bisa Disebut Gila Karena Senang Untuk Menyakiti Diri Sendiri

Kabarberitahariini.com, Jakarta – Seringnya menyakiti diri sendiri, seperti dengan menyayat lengan, memukuli diri, ataupun dengan membenturkan kepala ke tembok, adalah perilaku gangguan jiwa yang disebut dengan gangguan kepribadian tipe ambang (Borderline Personality Disorder/BPD).

Orang yang memiliki gangguan BPD mencapai 2-3 persen dari populasi serta mayoritas remaja ataupun dewasa muda. Mengapa bisa disebut dengan gangguan “ambang”, karena penderitanya berada pada ambang psikosis, antara skizofrenia serta neurosis.

Menurut penjelasan dr.Andri Sp.KJ, gangguan ini ditandai dengan adanya perilaku agresif dan kompulsif, yang biasanya banyak terdapat pada individu dengan perilaku kekerasan.

” Bukan hanya dengan menyayat-nyayat pergelangan tangan, tetapi melakukan perilaku yang beresiko seperti ngebut-ngebutan, berkelahi, boros belanja, atau minum alkohol sampai mabuk,” bebernya.

Baca Juga :  3 Tips Jitu Ini Bisa Kamu Gunakan Untuk Menolak Tanpa Menyakitinya

Orang yang dengan gangguan ini memiliki pola perilaku yang bisa berlangsung dengan lama dan berulang. ” Orangtua harus memperhatikan ada tidaknya perilaku ini terjadi pada anak-anaknya,” ungkap psikiater dari RS Omni Tangerang ini.

Ciri lain dari BPD antara lain adanya gangguan identitas ataupun perasaan diri yang nyata, mood yang kurang stabil, sering kesulitan dalam mengendalikan amarah, ataupun perasaan kosong yang kronis.

Mereka yang sudah memiliki gangguan BPD ini akan lebih rentan untuk tertarik mengikuti permainan berbahaya pada media sosial seperti Blue Whale Challenge.

Untuk mendiagnosis BPD, diperlukan adanya pemeriksaan oleh dokter kesehatan jiwa ataupun psikiater. Pemicu gangguan ini sendiri masih belum jelas, tetapi penelitian menyebut dikarenakan adanya gangguan pada fungsi otak yang dipicu oleh trauma tindakan kekerasan ataupun penelantaran di masa anak-anak.

Perilaku menyakiti diri sendiri atau tindakan beresiko, menurut Andri, dilakukan penderita hanya untuk mengalihkan perasaannya. ” Mereka merasa sakit hatinya biasanya akan dipindahkan ke sakit fisik. Perasaannya akan lebih nyaman apabila yang sakit fisiknya,” tambahnya. Gangguan BPD bisa dikendalikan hanya dengan obat-obatan dan juga psikoterapi.

Related posts